Parade Ngelawar Meriahkan HUT ke-81 RI di Gianyar
Parade Ngelawar dan Metanding Gebogan di Gianyar menjadi ajang memperingati HUT ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 RI sekaligus melestarikan tradisi Bali
Parade ngelawar yang diikuti oleh puluhan Kepala Desa se-Gianyar di Wantilan Pura Samuantiga, Desa Bedulu, Gianyar, Kamis (13/8/2026).
Foto: Ketut Catur Kusumaningrat
Parade ngelawar yang diikuti oleh puluhan Kepala Desa se-Gianyar di Wantilan Pura Samuantiga, Desa Bedulu, Gianyar, Kamis (13/8/2026).
Foto: Ketut Catur Kusumaningrat
Perayaan HUT ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Gianyar dikemas dengan nuansa pelestarian tradisi dan budaya Bali. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Gianyar menggelar Parade Ngelawar dan Metanding Gebogan di Wantilan Pura Samuantiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan 64 perbekel dan 64 ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dari tujuh kecamatan se-Kabupaten Gianyar. Sementara itu, kegiatan metanding gebogan diikuti para ibu camat bersama 64 ibu perbekel.
Para camat juga turut bergabung dalam kegiatan tersebut. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika para peserta bersama-sama mengolah lawar sekaligus menampilkan keterampilan dalam menyusun gebogan.
Kepala Dinas PMD Gianyar, Gede Daging, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk perayaan HUT ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus upaya menjaga keberlangsungan seni dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Ini kita meriahkan dengan melestarikan seni dan budaya kita di Gianyar. Salah satunya ngelawar dan metanding gebogan,” ujarnya.
Menurut Gede Daging, setiap kecamatan di Gianyar memiliki karakteristik dan cita rasa lawar yang berbeda. Perbedaan tersebut dinilai menjadi bagian dari kekayaan budaya yang harus terus dijaga.
“Payangan seperti apa, Tegallalang seperti apa, pasti berbeda. Tidak mungkin sama. Ini merupakan keanekaragaman yang perlu kita jaga, lestarikan dan terus berkelanjutan,” katanya.
Bupati Gianyar, Made Agus Mahayastra, mengapresiasi kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan ngelawar tersebut. Menurutnya, lawar tidak hanya menjadi bagian dari kuliner tradisional Bali, tetapi juga memiliki makna tentang kebersamaan dan keragaman.
“Lawar memiliki makna kebersamaan, keragaman. Kalau salah satu mendominasi, rasanya tidak akan enak,” ujarnya.
Ia mengibaratkan lawar sebagai gambaran kehidupan bermasyarakat. Jika garam terlalu dominan, rasa lawar akan menjadi asin. Begitu pula apabila cabai terlalu banyak, rasa pedas akan lebih menonjol.
Menurut Agus, cita rasa lawar justru muncul ketika berbagai bahan dapat bercampur dan menyatu secara seimbang. Hal tersebut, kata dia, juga menggambarkan kehidupan sosial masyarakat yang membutuhkan keseimbangan, toleransi, dan kebersamaan.
“Yang enak adalah bagaimana mereka bercampur, bersatu padu, membuat rasa yang enak. Itulah lawar, itulah rasa kebersamaan kita di Gianyar,” katanya.
Agus menambahkan, tradisi ngelawar tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat Gianyar. Lawar hampir selalu hadir dalam berbagai kegiatan adat, piodalan, maupun acara keluarga.
Selain sebagai bagian dari tradisi kuliner, ngelawar juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk membaur dan mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing di lingkungan adat maupun banjar.
“Kalau hadir di tengah-tengah masyarakat, apakah kita bengong? Malu dong kita bengong. Minimal bisa berbaur. Entah kalau tidak bisa dalam hal A, di hal B kita bisa,” ujar Agus.
Melalui Parade Ngelawar dan Metanding Gebogan tersebut, Pemerintah Kabupaten Gianyar berharap tradisi dan budaya Bali tidak hanya menjadi bagian dari perayaan seremonial, tetapi tetap hidup dan diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi berikutnya.