Hasil Karya Warga Binaan Rutan Gianyar Jadi Sumber Penghasilan, Dipamerkan hingga Dipesan Masyarakat

Kerajinan berbahan koran bekas karya warga binaan Rutan Gianyar dijual Rp50 ribu hingga Rp300 ribu dan mulai dipesan masyarakat

Hasil Karya Warga Binaan Rutan Gianyar Jadi Sumber Penghasilan, Dipamerkan hingga Dipesan Masyarakat

Hasil karya warga binaan Rutan Kelas IIB Gianyar yang dipamerkan dalam kegiatan Mini Fest Kemenag Gianyar pada Kamis (13/8/2026).

Foto: ISTIMEWA

Kreativitas warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gianyar terus dikembangkan melalui program pembinaan kemandirian. Beragam kerajinan tangan yang mereka hasilkan tidak hanya menjadi kegiatan produktif selama menjalani masa pembinaan, tetapi juga mulai memberikan penghasilan melalui penjualan kepada masyarakat.

Salah satu kegiatan yang dikembangkan adalah kerajinan berbahan dasar koran bekas. Bahan sederhana tersebut diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari dekorasi dan hiasan pajangan, tempat tisu, pajangan Barong dan Datu, sokasi, bokoran, hingga asbak.

Pembina Kemandirian Rutan Gianyar, Putu Juliarta, mengatakan saat ini sekitar 10 warga binaan terlibat aktif dalam kegiatan tersebut. Keikutsertaan dilakukan secara sukarela sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing.

Menurutnya, kegiatan kerajinan tidak hanya menjadi sarana untuk mengisi waktu secara produktif, tetapi juga memberikan keterampilan yang dapat menjadi bekal bagi warga binaan setelah kembali ke tengah masyarakat.

“Untuk satu produk biasanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu hingga selesai. Mulai dari proses merakit, menjemur sampai dipernis,” ujar Juliarta.

Proses pembuatan dilakukan secara bertahap. Koran bekas terlebih dahulu dirangkai dan dibentuk sesuai desain produk. Setelah itu, hasil anyaman atau rangkaian dijemur hingga kering sebelum memasuki tahap akhir berupa pelapisan pernis.

Pernis diberikan untuk memperkuat produk sekaligus meningkatkan tampilan dan nilai estetikanya. Dengan proses tersebut, bahan yang sebelumnya dianggap tidak terpakai dapat diubah menjadi berbagai kerajinan yang memiliki nilai jual.

Harga produk yang dihasilkan juga relatif terjangkau, yakni mulai Rp50 ribu hingga Rp300 ribu. Harga tersebut disesuaikan dengan jenis, ukuran, serta tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya.

Meski kualitas produk terus berkembang, pemasaran masih menjadi salah satu tantangan. Selama ini, hasil kerajinan warga binaan lebih banyak diperkenalkan melalui pameran maupun kegiatan tertentu. Penjualan secara rutin masih terbatas sehingga produksi umumnya dilakukan berdasarkan pesanan konsumen.

Sejumlah produk bahkan mendapat perhatian masyarakat karena memiliki bentuk yang unik dan memanfaatkan bahan daur ulang. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi warga binaan untuk terus mengembangkan kreativitas sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari produk yang dibuat.

Melalui program pembinaan kemandirian, Rutan Gianyar berupaya memberikan lebih dari sekadar kegiatan selama warga binaan menjalani masa pidana. Keterampilan produksi dan pengalaman menghasilkan barang bernilai jual diharapkan dapat menjadi modal ketika mereka kembali ke lingkungan masyarakat.

Dengan bekal tersebut, warga binaan diharapkan mampu menjalani kehidupan yang lebih mandiri, produktif, serta memiliki peluang untuk mengembangkan keterampilan menjadi usaha setelah bebas.

Ketut Catur Kusumaningrat

Ketut Catur Kusumaningrat

Jurnalis yang bertugas lebih dari 6 tahun di Kabupaten Gianyar, Bali. Berpengalaman baik di media cetak, media online, hingga televisi.

BERITA TERKAIT